BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Bencana alam yang terjadi dimuka bumi tidak henti-henti silih berganti tercatat dari sejarah purba hingga modern berbagai bencana alam dan mungkin puluhan juta manusia tertelan dari bencana tersebut, dari riwayat jaman musnanya dinosaurus hingga sejarah hilangnya peradapan kuno yang sekarang masih diperdebatkan, yang pasti di jaman modern inipun sudah ribuan bencana alam terjadi. sumber bencana alam meliputi dari bumi sendiri : Gempa bumi, Gunung meletus, Sunami dan banjir, angin ribut/topan, serta bisa datang dari ancaman luar bumi yaitu adanya meteor yang jatuh ke bumi. Serangkaian bencana alam yang terjadi di dunia, gempa dan sunami di aceh, serta bencana gunung berapi serta bencana lainnya. Gempa bumi dan gelombang sunami yang terjadi 11 Maret 2011 di Jepang telah memakan lebih dari 18.000 orang korban jiwa. Negara-negara di seluruh dunia kini berfokus pada penciptaan sistem peringatan dini yang paling efektif untuk melindungi warga dari kemungkinan terburuk bencana alam. negara jepang yang telah diakui dunia sebagai negara kaya dengan teknologi tidak mampu mendetksi akan terjadinya bencana.

Di indonesia dari riwayat nenek moyang, sudah tidak asing lagi jika adanya perubahan prilaku dari binatang itu merupakan becanda buruk seperti jika melihat anjing menggonggong tak henti-henti, masuknya binatang buas ataupun binatang selain peliharaan ke daerah pemukiman, Petanda lain pada binatang ternak adalah ketika sapi, kambing, bebek menolak untuk makan, sering mengeluarkan suara yang tidak biasanya atau kuda yang terus berputar-putar, dan lain-lainnya. Naluri binatang-binatang tersebut dinilai lebih akurat ketimbang sistem peringatan dini lain.

Bukti keandalan perilaku binatang dalam memprediksi bencana gempa memang layak dipertimbangkan. Hal ini terbukti pada bencana sunami besar sekitar 7 tahun silam. National Geographic melaporkan, saat terjadi bencana tsunami di Samudera Hindia di tahun 2004, banyak spesies yang selamat karena berhasil melarikan diri sebelum bencana.

1.2. Rumusan Masalah

  1. Apakah yang dimaksud dengan animal’s warning system?
  2. Adakah perilaku hewan yang menunjukkan peringatan akan datangnya bencana?

1.3. Tujuan Penulisan

  1. Untuk dapat menjelaskan apa yang dimaksud dengan animal’s warning system.
  2. Untuk dapat mengetahui perilaku-perilaku hewan saat akan terjadi bencana alam.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 2.1. Animal’s warning system

               Kemampuan hewan yang dapat mendeteksi sebuah gempa  memberikan inspirasi pada manusia untuk membuat peralatan yang memiliki  kemampuan serupa. Marsha Adams, seorang peneliti gempa di San Fransisco, AS  mengklaim dirinya telah mengembangkan sensor yang dapat menangkap sinyal elektromagnetik frekuensi rendah dengan keakuratan 90%. Peralatan itu menangkap  sinyal yang sama dengan sinyal yang ditangkap hewan. Beberapa hewan memiliki  reseptor untuk menangkap getaran berfrekuensi tinggi dan rendah.

Sistem peringatan dini (early warning system)  dengan menggunakan pengamatan terhadap perilaku hewan memerlukan pengembangan  dan penelitian lebih lanjut. Cina telah menjadi pioner dengan mendirikan stasiun percobaan (experimental station) untuk memprediksi terjadinya gempa bumi menggunakan observasi biologi di Provinsi Xingtai pada tahun 1968. Jika sistem  ini telah teruji dan berkembang dengan baik, maka sistem ini dapat menghemat  biaya dalam membeli berbagai instrumen dan peralatan untuk memprediksi  gempa.

2.2. Perilaku Hewan Sebagai Sistem Peringatan Aktivitas Tektonik Dini

Hewan liar dan peliharaan, sangat sensitif terhadap perubahan di lingkungan mereka, dan diyakini mampu mendeteksi kejadian bencana yang akan datang seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi. Jika manusia bisa belajar menjadi sensitif terhadap perilaku hewan sebagai binatang adalah untuk pemicu lingkungan mereka, maka pengakuan ini indikator alam dapat memberikan kami sebuah alat yang efektif untuk prediksi bencana yang akan datang.

·         Bagaimana Hewan Merasakan Aktivitas Tektonik dekat?

Cara-cara di mana hewan bisa merasakan dekat aktivitas tektonik tidak jelas dipahami, tetapi kemungkinan bahwa hewan yang lebih sensitif dari pada manusia untuk getaran di bumi. Selanjutnya, mereka mungkin sensitif terhadap rangsangan seperti perubahan listrik di udara, gas yang dilepaskan dari bumi atau perubahan tekanan udara.

·         Dapat Aktivitas tektonik akan Diprediksi oleh Mengamati Perilaku Hewan?

Sementara itu adalah untuk keuntungan manusia untuk belajar bagaimana untuk menafsirkan tanda-tanda yang ditampilkan oleh hewan di muka aktivitas tektonik, ini telah terbukti sulit karena variasi besar dalam tanggapan hewan.

Meskipun ada banyak laporan hewan berperilaku tidak beraturan atau tampak gelisah dan gugup sebelum gempa bumi atau letusan gunung berapi, hubungan yang andal antara jenis tertentu perilaku dan peristiwa tektonik belum ditetapkan. Selain itu, sangat sulit untuk merancang sebuah studi terkontrol untuk pemeriksaan dan verifikasi dari hubungan ini

Terlepas dari kurangnya data ilmiah yang kuat yang mendukung hubungan antara perilaku hewan dan antisipasi aktivitas tektonik, banyak masyarakat yang mendiami daerah tektonik aktif dari bumi telah digunakan untuk generasi tanda-tanda alam untuk memprediksi gempa bumi dan letusan gunung berapi.

·         Prediksi Kegiatan Gunung Merapi

Sebagai contoh dari ini, dapat mempertimbangkan penduduk di daerah yang sedang aktif Gunung Merapi di Jawa Tengah, Indonesia. Orang-orang ini telah lama diakui bahwa binatang dan burung khas bergerak turun lereng gunung sebelum letusan, menyediakan hal adanya peringatan bahaya.

Namun sayangnya, karena penggalian pasir di lereng gunung berapi, dan kerusakan lingkungan dari sebelumnya aktivitas gunung berapi, ekosistem hutan pada dan di sekitar gunung telah menjadi rusak dan hewan dan burung langka. Hal ini mungkin telah memberi kontribusi pada hilangnya melaporkan dari sistem peringatan dini alami pada awal letusan mematikan baru-baru ini.

2.3.  Tujuh Perilaku Hewan Dan Mitos Mistis yang Menyertainya

Setiap manusia pasti pernah berinteraksi dengan hewan, meskipun itu hanya binatang peliharaan. Jika kita amati sebenarnya mereka ingin sekali berkomunikasi dengan kita, karena keterbatasan ilmu yang diberikan Tuhan kepada kita, kita hanya bisa mereka-reka apa yang hendak disampaikannya.

Hewan-hewan tersebut terkadang lebih peka daripada manusia, apalagi jika anda merawat mereka dengan baik. Terkadang binatang mempunyai insting yang tajam, bahkan memiliki indra keenam yang dapat membaca suatu peristiwa atau keadaan.

Ada suatu cerita sekitar abad ke-12 di Jepang. Pada waktu itu kaisar Jepang senang sekali memelihara ikan koi. Suatu ketika kaisar melihat tingkah laku yang aneh pada ikan koinya. Ikan itu melompat-lompat seperti ingin keluar dari kolam. Lalu oleh kaisar ikan itu dibawa keluar istana. Baru saja kaisar keluar dengan membawa ikan koi kesayangannya itu, terjadilah gempa yang sangat dashyat, dan untungnya kisar selamat karena ia berada diluar halaman kerajaan. Itulah awal mula mengapa ikan koi disebut ikan keberuntungan dan berharga mahal. Berikut beberapa hewan peliharaan, yang perilakunya dianalogikan merupakan membawa pertanda terhadap suatu peristiwa :

  • Anjing

Jika anjing anda melolong pada malam hari, itu bisa diisyarakatkan ada mahluk halus jahat yang akan mengganggu atau yang sedang lewat di daerah situ. Pada khasus lain anjing melolong pada malam hari juga bisa diartikan akan ada peristiwa atau bencana. Jika anjing mendengkur dan ekornya terlipat kebawah berarti ada mahluk halus disekitar anda tapi mahluk tersebut tidak membahayakan. Perilaku anjing berjingkrak-jingkrak, ekor diangkat keatas dengan bulu yang mekar menandakan anjing anda sedang ceria, itu diartikan akan ada tamu yang datang dari jauh yang akan memberikan rezeki.

  • Kucing

Kucing dipercaya sebagai binatang yang penuh misteri. Jika kucing anda mengeong dengan nada yang besar dan panjang, berarti anda harus waspada, karena akan ada orang yang menjahili anda baik itu langsung maupun tidak langsung (baca = diguna-guna),. Hewan yang satu ini dipercaya bisa menangkal guna-guna yang datang. Kekuatan guna-guna dan kucing anda akan berbenturan, dari sini bisa dilihat nanti siapa yang lebih unggul, kalau kucing mati tiba-tiba tanpa sebab seperti sakit atau kecelakaan itu berati kucing kalah setelah berjuang melawan guna-guna yang datang.Perilaku kucing yang menyeruduk-nyeruduk anda, berarti anda akan mendapatkan rezeki. Kalau kucing anda sering ribut dengan kucing lainnya tanpa sebab, berarti akan ada keributan atau pertengkaran dirumah atau lingkungan rumah.

  • Burung

Burung bisa memberi peringatan pada manusia tentang suatu peristiwa yang akan terjadi. Jika burung perkutut berbunyi pada malam hari, itu pertanda anda akan menemukan musibah besar. Namun kalau burung perkutut berbunyi pada pagi hari, berarti kebaikan akan menyertai langkah dan kalau burung perkutut anda mati tanpa sebab, itu berarti burung perkutut anda rela menjadi tameng , kematian burung secara tiba-tiba disebabkan adanya orang yang mau berbuat jahat terhadap seseorang dan burung tersebut menjaga nyawa majikannya dengan mengorbankan dirinya.

Jika seseorang memelihara burung hantu, hati-hati karena aura burung hantu mampu mengundang mahluk halus untuk datang kerumah . Jika seseorang memelihara angsa, seseorang tersebut mungkin termasuk beruntung, hewan ini selain dikenal bisa menjaga rumah seperti halnya anjing, mereka juga suka memberikan peringatan dengan suara keras jika ada suatu bentuk serangan halus seperti guna-guna atau datangnya mahluk halus. Konon menurut kepercayaan, teriakan angsa bisa mengusir mahluk halus sepert kuntilanak dan genderuwo.

  • Kuda

Jika seseorang mempunyai seekor kuda, maka kuda adalah binatang yang paling sensitive memberikan peringatan bagi majikannya. Kuda yang tiba-tiba meringkik ketakutan, berarti majikan akan menemui kesulitan. Jika kuda sedang menghembuskan nafas memburu, itu bukan karena dia habis jogging, apalagi jika kuda tersebut berada dikandang dan tidak dikeluarkan, perilaku kuda yang seperti itu memberi tanda bahwa ia melihat mahluk halus yang berbahaya.

  • Musang/Garangan

Unsur aura hewan jenis ini lebih kuat daripada hewan Kucing, Anjing dan angsa. Secara aura mereka bisa menjadi pelindung bagi pemelihara. Namun  juga harus berhati-hati jika pemelihara tidak merawat hewan ini dengan baik dan cenderung mentelantarkan mereka atau menyiksa. Aura hewan ini akan berbalik memberikan anda kesialan dan juga ketidak tenangan dirumah pemelihara. Bahkan aura musang yang sering disakiti bisa mengundang mahluk halus yang jahat.

  • Kupu-kupu

Terkadang ada dari seseorang yang suka mengkoleksi jenis kupu-kupu tertentu. Mungkin bukan hal yag aneh atau sudah menjadi rahasia umum yang beranggapan jika kupu-kupu memasuki rumah berarti rumah tersebut akan kedatangan tamu istimewa.

  • Ular

Bagi pemelihara ular, ada beberapa jenis ular tertentu yang uaranya mampu mengundang kedatangan mahluk halus, namun ada juga ular yang auranya sangat dingin yang mampu membuat tentram hati pemelihara, terutama jenis ular berukuran kecil. Bagi  yang menyukai ular jenis king kobra. Berhati-hatilah karena selain jenis ular ini sangat berbahaya dan berbisa, auranya bisa membuat keadaan sekitar pemelihara menjadi suram, dan ini tidak baik bagi rejeki dan kesuksesan pemelihara.

2.4.   Hewan Dapat merasakan datangnya Tsunami

Bangsa Romawi melihat burung hantu sebagai pertanda akan hadirnya bencana. Sementara banyak kebudayaan kuno menghubungkan gajah dengan kebijaksanaan dan kekuatan mistis yang dianggap suci. Semua itu mungkin ada alasannya.Sebelum gelombang raksasa menerjang pantai-pantai di Asia Selatan sepuluh hari lalu, terjadi suatu fenomena yang cukup aneh: hewan-hewan liar dan peliharaan sepertinya tahu apa yang akan terjadi dan berusaha menyelamatkan diri.

Menurut para saksi mata gajah-gajah mengeluarkan suara nyaring dan berlari ke tempat tinggi, anjing-anjing menolak keluar rumah, burung-burung flamingo meninggalkan sarangnya yang berada di tempat rendah, dan hewan-hewan di kebun binatang terbirit-birit masuk kandang atau tempat perlindungannya.Mungkinkah mereka tahu apa yang akan terjadi? Sesungguhnya dugaan bahwa hewan memiliki indera ke-enam yang bisa mengetahui akan ada gempa bumi sudah menjadi pemikiran para ilmuwan sejak berabad-abad.

Para peneliti hewan yakin kemampuan mendengar dan indera lain yang dimiliki binatang memungkinkan mereka mendengar atau merasakan getaran Bumi, dan memberi peringatan adanya bencana yang mendekat sebelum manusia, manusia, tahu apa yang terjadi.
Dalam bencana tsunami yang menewaskan lebih dari 150.000 orang tanggal 26 Desember lalu, ditemukan sedikit saja hewan yang mati. Hal ini makin menambah keyakinan bahwa binatang memiliki semacam sistem peringatan dini terhadap datangnya bahaya.

Pengalaman Ravi Corea, presiden Sri Lanka Wildlife Conservation Society, mungkin bisa menjadi bukti dugan itu. Ia sedang berada di Sri Lanka saat tsunami menggempur, dan menuju pantai Patanangala yang terletak dalam Taman Nasional Yala, tempat dimana 60 orang pengunjung tersapu ombak. Di lokasi pantai seluas 1.300 kilometer persegi itu ia dan petugas lain tidak menemukan bangkai hewan kecuali dua ekor kerbau mati. Padahal di sana banyak terdapat gajah, macan tutul,rusa dan setidaknya 130 spesies burung.Sedangkan di pesisir Cuddalore, India, dimana ribuan orang tewas, kantor berita Indo-Asian News melaporkan bahwa kerbau-kerbau, kambing, dan dog semuanya selamat.

Sementara burung flamingo yang bertelur di suaka margasatwa Point Calimere, India, beterbangan ke tempat tinggi sebelum tsunami muncul.Perilaku anehGajah seolah tahu akan hadirnya tsumani,laporan mengenai perilaku hewan yang aneh juga muncul di banyak tempat. Sekitar satu jam sebelum tsunami mengamuk, menurut Corea, orang-orang di Taman Nasional Yala melihat tiga ekor gajah lari menyingkir dari pantai Patanangala. World Wildlife Fund, organisasi perlindungan satwa yang memasang kalung satelit pada hewan-hewan itu berencana mencari tahu apakah benar mereka lari ke tempat tinggi.

Salah seorang kolega Corea di kota Dickwella melaporkan kelelawar-kelelawar di daerah itu terbang ketakutan sebelum tsunami menghantam. Rekan lain yang tinggal di pantai dekat Galle, menceritakan anjing-anjingnya tidak mau diajak bermain di pantai. Padahal biasanya anjing-anjing ini bersemangat bila di ajak keluar.

Alan Rabinowitz, direktur ilmu pengetahuan dan eksplorasi di Kebun Binatang Bronx, New York, setuju dengan anggapan yang menyebut hewan bisa merasakan kehadiran bencana. Menurutnya hewan-hewan itu mampu mendeteksi perubahan halus maupun kasar dalam lingkungannya.”Gempa bumi menimbulkan perubahan getaran di darat dan air, sedangkan badai menimbulkan perubahan elektromagnet di atmosfer,” katanya. “beberapa hewan memiliki pendengaran dan penciuman tajam yang memungkinkan mereka mengetahui ada sesuatu yang akan datang sebelum manusia menyadarinya.”

Lebih jauh, Joyce Poole, direktur Savanna Elephant Vocalization Project yang meneliti gajah Afrika di Kenya selama 25 tahun mengatakan laporan bahwa gajah-gajah di Sri Lanka menyingkir ke tempat tinggi sebelum tsunami datang bukanlah hal baru baginya. Penelitian komunikasi akustik dan seismik mengindikasikan bahwa gajah bisa dengan mudah merasakan getaran yang dihasilkan oleh gempa bumi. “Saya pernah berada di sekitar gajah dalam dua peristiwa gempa bumi kecil, dan dalam dua kesempatan itu gajah-gajah sudah lari beberapa saat sebelum saya merasakan goncangan,”katanya.

Dugaan tentang kemampuan hewan-hewan ini telah mendorong peneliti di Jepang mencari tahu apa yang didengar dan dirasakan hewan sebelum gempa terjadi. Seperti diketahui Jepang adalah wilayah yang menjadi langganan gempa, sehingga penelitian ini bertujuan agar mereka bisa menggunakan hewan sebagai peringatn dini.Walau demikian, beberapa ahli seismologi AS meragukan teori di atas. Memang telah ada kasus-kasus dimana hewan berperilaku aneh sebelum terjadi gempa, namun Badan Survey Geologi AS (USGS) mengatakan tidak ada keterkaitan yang jelas antara perilaku itu dengan hadirnya gempa. “Hewan-hewan bereaksi terhadap banyak hal, seperti bila lapar, mempertahankan wilayahnya, musim kawin, adanya pemangsa, dan lainnya sehingga sulit mempelajari adanya kemampuan peringatan dini itu,” kata Andy Michael, ahli geofisika di USGS. ”

2.5.   Binatang Sebagai Peringatan Akan Adanya Bencana

Gempa bumi dan gelombang sunami yang terjadi 11 Maret 2011 di Jepang telah memakan lebih dari 18.000 orang korban jiwa.dan serangkaian bencana alam yang terjadi di dunia, gempa dan sumani di aceh, serta bencana gunung berapi serta bencana lainnya. Negara di seluruh dunia kini berfokus pada penciptaan sistem peringatan dini yang paling efektif untuk melindungi warga dari kemungkinan terburuk bencana alam. negara jepang yang telah diakui dunia sebagai negara kaya dengan teknologi tidak mampu mendetksi akan terjadinya bencana.

Di indonesia dari riwayat nenek moyang, sudah tidak asing lagi jika adanya perubahan prilaku dari binatang itu merupakan becanda buruk seperti jika melihat anjing menggonggong tak henti-henti, masuknya binatang buas ataupun binatang selain peliharaan ke daerah pemukiman, Petanda lain pada binatang ternak adalah ketika sapi, kambing, bebek menolak untuk makan, sering mengeluarkan suara yang tidak biasanya atau kuda yang terus berputar-putar, dan lain-lainnya. Naluri binatang-binatang tersebut dinilai lebih akurat ketimbang sistem peringatan dini lain.

Bukti keandalan perilaku binatang dalam memprediksi bencana gempa memang layak dipertimbangkan. Hal ini terbukti pada bencana tsunami besar sekitar 7 tahun silam. National Geographic melaporkan, saat terjadi bencana tsunami di Samudera Hindia di tahun 2004, banyak spesies yang selamat karena berhasil melarikan diri sebelum bencana.Ketika itu, dilansir nationalgeographic.com, gajah sontak berlari ke tempat yang lebih tinggi, anjing menolak keluar dari ruangan, dan burung bangau rela meninggalkan dataran rendah tempat mereka biasa berkembang biak demi keselamatan. “Kepercayaan bahwa binatang liar memiliki indra keenam, bahkan mungkin sebelum manusia ada, telah ada sejak ribuan abad silam,” kata majalah tersebut. Diduga frekuensi rendah sinyal elektromagnetik dari perut bumi dapat ditangkap oleh hewan untuk berperilaku tidak biasa sebelum gempa bumi terjadi.

2.6.  Respon Individu Hewan Terhadap Perubahan Lingkungan

Individu melakukan respon terhadap perubahan lingkungan dengan menggunakan beberapa cara : fisiologis, morfologis dan perilaku.

  • Respon Fisiologis

Banyak organisme mampu untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dengan membuat penyesuaian fisiologis. Contohnya beberapa jenis serangga menghindari  pembekuan di musim dingin dengan menambah gliseron “anti beku” dalam darah mereka. Bentuk toleransi lain dari proses pembekuan adalah dengan mengkonversi cadangan glikogen menjadi alcohol yang melindungi membrane-membrane sel mereka dari kerusakan akibat pembekuan.

  • Respon Morfologis

Hewan yang memelihara suhu tubuh internalnya secara tetap (contant) disebut dengan hewan endotermik, dalam lingkungan yang dingin memiliki kemampuan adaptasi dengan cara meminimalkan energy yang dikeluarkan. Banyak hewan lain hidup dengan bulu-bulu yang tebal selama musim dingin. Bulu yang tumbuh semakin tebal, semakin hangat dirasakan tubuh hewan. Rubah kutub bisa mengubah ketebalan bulunya sampai tiga kali dalam  musim dingin dan dua kali dalam musim panas. Mamalia lain menghindari diri dari biaya mahal untuk memelihara suhu tubuhnya agar tetap konstan selama musim dingin dengan cara hibernasi (tidur selama musim dingin).

  • Respon Perilaku

Kebanyakan hewan menghadapi perubahan lingkungan dengan cara bergerak dari satu bagian habitat ke bagian lainnya untuk menghindari kawasan yang tidak cocok. Kadal didaerah tropis mengelola dan memelihara keseragaman suhu tubuh di area terbuka dengan berjemur di bawah sinar matahari, kemudian kembali ke area terlindung untuk berteduh ketika sinar matahari sangat panas. Disisi lain, di kawasan hutan yang teduh, kadal yang sama tidak memiliki kesempatan untuk mengatur suhu tubuhnya dengan perilaku, sehingga kadal ini harus menerima keadaan dengan mengambil suhu lingkungan yang ada di sekitarnya saja.

2.7.   Perilaku Abnormal Pada Hewan

               Berbagai fenomena dan fakta tentang perilaku abnormal  hewan sebelum terjadinya gempa tertulis pula dalam artikel David Jay Brown yang  berjudul Etho-Geological Forecasting. Disebutkan, seorang ahli geologi  dari California,AS mengklaim dapat memprediksi sebuah gempa dengan tingkat akurasi 75% melalui penghitungan jumlah hewan peliharaan (pets) yang hilang, penghitungan ini telah dilakukan selama bertahun-tahun. Akhirnya, dapat  disimpulkan, angka hilangnya hewan peliharaan (anjing dan kucing) akan naik  secara signifikan selama dua minggu sebelum gempa. Kesimpulan ini terbukti  ketika memprediksi gempa di Loma Prieta, Northern California, AS.

Sebelum terjadinya gempa, beberapa hewan menunjukkan  perilaku abnormal dengan pola tingkah laku yang khas pada setiap spesies. Ular  merupakan hewan yang biasa tidur di musim dingin (hibernate), namun ular  ini akan keluar dari lubangnya sebelum terjadinya gempa, kemudian membeku di  atas permukaan salju. Tikus akan terlihat linglung (dazed) beberapa saat sebelum gempa, sehingga dapat dengan mudah ditangkap tangan. Burung merpati akan  memperlambat terbangnya ketika akan menuju suatu tempat. Ayam akan menghasilkan  telur yang sedikit, bahkan tidak bertelur sama sekali. Babi secara agresif  saling menggigit satu sama lain sebelum terjadinya gempa (Tributsch,  1982).

Lebah terlihat meninggalkan sarangnya dalam kondisi  panik beberapa menit sebelum gempa, dan tidak akan kembali ke sarangnya sampai  15 menit setelah gempa berhenti. Bahkan hewan kecil seperti lintah  (leechs), cumi-cumi (squid), dan semut pun memperlihatkan perilaku  abnormal sebelum terjadinya gempa (Miller, 1996).

Fenomena terjadinya perilaku yang tidak lazim pada  hewan sebelum terjadinya gempa dapat dijelaskan dengan berbagai teori. Sebagian  besar hewan memiliki kapasitas pendengaran (auditory capacities) yang  melebihi manusia. Selain itu, hewan dapat memberikan reaksi terhadap pancaran  suara ultra (ultrasound) sebagai getaran mikroseismik dari patahan  batuan.

Fluktuasi medan magnet bumi dapat menyebabkan  perilaku abnormal pada hewan. Beberapa hewan memiliki sensitivitas terhadap  variasi medan magnet bumi yang terjadi di dekat pusat gempa (episenter).  Perubahan medan magnet bumi dapat memengaruhi proses migrasi burung-burung, dan  menganggu kemampuan navigasi ikan. Selain itu, ion-ion yang bermuatan dapat  keluar sebelum terjadinya gempa. Hal ini menyebabkan partikel ion yang bermuatan listrik dapat mengubah pemancar gelombang saraf (neurotransmitter) dalam otak hewan.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

·         Kemampuan yang dimiliki organisme untuk beradaptasi sehingga mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan benar-benar telah menyelamatkan mereka dari berbagai ancaman lingkungan, bahkan kemampuannya dapat meramalkan perubahan-perubahan lingkungan telah menyelamatkan mereka dari kematian selama perubahan tersebut bukan merupakan perubahan yang ekstrim.

  • Individu melakukan respon terhadap perubahan lingkungan dengan menggunakan beberapa cara : respon fisiologis, respon morfologis dan respon perilaku.